Ya, gitu deh

malika panggung boneka

Pernah timbul rasa kesal mendengar jawaban ini dari anak? Setelah seharian dipisahkan oleh kesibukan masing-masing, berjibaku hingga kepala di kaki dan kaki di kepala, saat bertemu anak di akhir hari tentunya kita ingin sekali mendengar cerita seru, haru dan baru dari anak kita di sekolah. Bagaimana kegiatan dia hari itu? Apa saja yang ia rasakan? Ada berita apa hari ini? Semua itu terangkum dalam satu pertanyaan yang sudah terpendam seharian dan sejak lama menyundul-nyundul ujung lidah untuk diucapkan, “Gimana tadi sekolahnya?”

Jawabannya? “Ya gitu deh.”

Seperti kerupuk disiram kuah bakso, rasanya layu sekali. Percakapan panjang dan seru yang telah dibayangkan sepanjang perjalanan (bisa sampai 2 jam ‘kan di jalan?) ternyata putus sebelum bermulai. Hal ini biasanya disusul dengan usaha lebih lanjut, “Gitu gimana? Cerita dong..” yang akan dijawab kira-kira “Ya begitu lah.” Ketika didesak lagi, paling anak akan membalas, “ya pokoknya gitu deh, biasa lah, semua biasa, belajar biasa, temen biasa, guru biasa…”

Setelah balas-balasan semacam itu terulang beberapa kali, biasanya kita ambil kesimpulan, “Ah, anak gue mah susah disuruh cerita, bilangnya begitulah-begitulah melulu.”

Kesimpulan ini kemudian diikuti dengan rasa pasrah. Sudahlah, gak usah nanya dia lagi. Paling jawabannya begitu terus. Mending tanya ortu murid lain, atau gurunya.

Sayang ya? Padahal saya lihat obrolan semacam itu kalau berhasil dilakukan adalah kesempatan emas. Terutama untuk ortu yang bekerja. Saat ngobrol, terutama di kala santai dan nyaman, kita mempererat ikatan psikologis, membangun pertemanan dengan anak, sekaligus jadi peluang untuk menyuntikkan pesan-pesan moral, membangun keterbukaan, mendidik ketajaman empati, kepekaan sosial dan tidak kalah, membantu anak berpikir secara terstruktur dan menajamkan daya analisa. Powerful loh proses bercerita itu. Tapi gimana? Wong anaknya begitu?

Mari kembalikan ke diri kita. Saat begitu banyak dan kompleks masalah yang dihadapi seharian, dengan perkembangan yang berubah-ubah setiap jam, bahkan menit, saat hari sudah berakhir dan kita meninggalkan itu semua, apa yang ada di pikiran kita? Mari tutup dulu laci-laci kesibukan itu dan, pulang. Kembali ke keluarga.

Lalu pasangan, yang bahkan tidak tahu awal dari cerita kompleks yang kita hadapi seharian hingga membuat kita penat dan lelah di malam hari bertanya, “Gimana hari ini?”

Apa yang keluar dari ucapan kita?

Tepat sekali, “Ya, gitu deh.”

Kesimpulannya, adil. Pertanyaan “Gimana hari ini?” atau “Gimana sekolahnya hari ini?” ternyata memiliki kandungan kompleksitas yang sama dengan jawaban “Ya, gitu deh.”

Kalau kompleks, berarti, mari kita sederhanakan.

Pilih aja satu topik/tema yang paling penting, yang paling kita utamakan, dan fokus di sana. Ini artinya kalau bagi kita lebih penting pelajaran, ya terimalah konsekuensi bahwa kita tidak akan menerima cerita tentang pertemanan, atau ekskul atau potongan rambut barunya umpamanya, secara utuh. Dan dari pengalaman saya, semakin spesifik pertanyaannya, semakin mudah bagi anak untuk menjawab.

Umpamanya, “Pelajaran apa yang paling susah hari ini?” Mudah untuk anak memberi jawabannya, sekalipun jawabannya pelajaran hari itu tidak ada yang susah, dan kemudian bersama mengembangkan ceritanya.

Atau kalau kita lebih mementingkan olah raga misalnya, kita bisa fokus pada satu pertanyaan itu tiap malam. Umpamanya, “Hari ini hitungan lari kamu udah nyampe berapa lama?”   Kemudian biarkan si anak kita berbinar-binar menceritakan perkembangan, ataupun kesulitannya.

Fokus pada tema itu. Terimalah kenyataan bahwa kita tidak akan mendengar 100% pengalaman dia hari itu.

Kita bisa ulangi pertanyaan yang sama setiap malam, hingga hari-hari berikutnya, saat anak sedang menjalani harinya, ia dapat mengantisipasi “Nah, ini yang nanti malam aku akan ceritakan ke ayah/ibu.”

Percayalah bahwa dari satu tema yang fokus, cerita akan lebih mudah berkembang. Bayangkan kita sendiri harus tiap malam menjawab, “Apa yang membuatmu senang hari ini?” dibanding, “Gimana hari ini?” Mana yang sekiranya lebih mudah dipersiapkan jawabannya?

Lebih baik lagi kalau tema/topik itu dipilih berdasarkan minat anaknya juga, sekaligus nilai yang ingin kita bangun (tapi hindari mengajari anak saat ngobrol yaa). Contoh variasi tema: Makanan (bisa mengarah ke gizi), pertemanan (mengajarkan berkehidupan sosial), pelajaran (bisa ke arah tanggung jawab), sense of humor (untuk belajar juga mengelola stress) dan masih banyak lagi. Dengan tema yang spesifik, pertanyaan yang spesifik pun lebih mudah kita buat.

Selain bertanya, cara lain untuk memancing cerita anak yang saya tahu adalah dengan bercerita duluan. Ini memberi kesempatan pada anak untuk bersikap dewasa dan mengomentari cerita kita. Dari situ kita bisa minta dia menceritakan bila dia punya pengalaman serupa.

Cara lain lagi yang saya pernah juga diberitahu, terutama bila anak memang adalah tipe yang tidak banyak bicara, mintalah dia untuk menjawab dengan cara lain. “Coba gambar apa yang kamu alami hari ini,” umpamanya. Atau, “Lagu apa yang paling mewakili perasaan kamu hari ini?” bersiaplah untuk menunggu beberapa waktu lamanya hingga anak memberi jawabannya. Anak seperti ini memang tidak dapat didesak.

Untungnya anak saya masih bisa ditanya. Saya memilih satu topik yang saya paling pentingkan di atas pelajaran, ekskul, penampilan, makanan dll. “Hari ini kamu menjadi teman yang baik untuk siapa?” Saya tanyakan pertanyaan yang sama setiap malam. Saya mendapat cerita yang menarik, saya juga jadi tahu cara dia menghadapi masalah sosial, dia pun jadi selalu mencari cara baru setiap hari untuk bisa menjawab pertanyaan saya di malam harinya. Saya puas, meski mungkin saya tidak tahu apakah hari itu dia mendapat skor terbaik di kelas atau apakah makanannya habis. Buat saya itu tidak penting.

*Penulis bukan psikolog. Cuma orang sotoy dengan 35 tahun pengalaman menjadi anak (sebelum ortu meninggal), dan 7 tahun lebih dikit jadi orang tua.